Posted by: Indonesian Children | April 25, 2009

PENANGANAN GANGGUAN BICARA DAN BAHASA KARENA AUTISM

Gangguan  komunikasi yang terjadi pada anak autism dapat berupa gangguan verbal ataupun nonverbal. Beberapa gangguan bicara dan bahasa pada penderita autism meliputi :

·         Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan.

·         Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat.

·         Kata-kata yang tidak dapat dimengerti orang lain (“bahasa planet”)

·         Tidak mengerti atau tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai.

·         Ekolalia (meniru atau membeo), menirukan kata, kalimat atau lagu tanpa tahu artinya.

·         Bicaranya monoton seperti robot

·         Bicara tidak digunakan untuk komunikasi

·         Mimik datar

Anak autism dengan ganguan komunikasi  haruis dilakukan observasi dan penilaian secara menyeluruh termasuk penilaian oral motor dan sistem motor bicara. Dr. Michael Crary menganjurkan beberapa hal tentang observasi dan evaluasi termasuk :

·         FUNGSI MOTOR BUKAN BICARA :                                               

Fungsi motor bukan bicara meliputi posisi tubuh dan cara berjalan, koordinasi gerakan motorik kasar dan halus, koordinasi gerakan mulut, posisi mulut,  air liur menetes terus, menelan, mengunyah, struktur mulut, simetris,

·         FUNGSI MOTOR BICARA :                                                            

Kemampuan dan usaha dalam proses bicara seperti deviasi dalam prosodi (kecepatan, volume, intonasi dll), kelancaran bicara, hiper/hiponasaliti,  diodochokinesis bicara (seperti pengulangan . “puh-puh-puh”, “puh-tuh-kuh” ), kemauan dan usaha secara spontan.  

·         KEMAMPUAN ARTIKULASI DAN FONOLOGI:

Gangguan komunikasi pada anak penyandang autisme, bisa dibedakan menjadi dua bagian: gangguan komunikasi verbal dan non verbal. Gangguan komunikasi verbal dimana anak bisa bicara tapi bicara tidak digunakan untuk komunikasi. Contohnya, membeo, ekolali, dan berbicara dalam situasi yang salah. Sebaliknya, gangguan komunikasi non verbal nampak dari hal-hal sederhana seperti kontak mata  minimal, tidak memahami bahasa tubuh, sampai dengan terlambat bicara atau sama sekali tidak bisa berbicara.


Dilihat dari penyebabnya: gangguan komunikasi bisa disebabkan oleh gangguan pada masalah memproduksi kata-kata karena motorik mulut, gangguan pada pendengaran sehingga tidak bisa mendengar kata apalagi mengingat kata-kata dengan jelas, tidak memahami arti kata-kata dan mengasosiasikan dengan situasi, dan lingkungan tidak mendukung anak untuk termotivasi berbicara atau mengembangkan kemampuan bicaranya.


Bila penyebabnya adalah gangguan pemrosesan suara atau kata termasuk gangguan motorik mulut, biasanya di dalam terapi bicara akan ditangani dengan pendekatan tertentu dilihat dari kebutuhan anak, pendekatan tersebut dapat berupa blowing atau oral motorik yang lain. Bila penyebabnya karena gangguan pendengaran,lebih banyak belajar melalui visual.

Metode COMPIC atau PECS untuk menjembatani komunikasi pada anak penyandang autisme. Pada penyebab yang ketiga, ditangani dengan cara mengajari arti kata (biasanya pada terapi ABA diekspose dalam berbagai program expresive), faktor lingkungan adalah faktor terakhir tapi sekaligus menopang seluruh faktor di atas bisa efektif, dan bisa ditangani melalui pendekatan “functional comunication” yang bisa diatur lingkungan dan  situasinya, biasanya bisa secara praktis dilakukan orang tua.

 

CARA UNTUK MERANCANG UNTUK MENCIPTAKAN KOMUNIKASI FUNSIONAL (FUNCTIONAL COMMUNICATION) PADA ANAK AUTISM :

·         Perhatikan hal yang paling menyenangkan buat anak, misalkan anak suka nonton film Mickymouse. Hal tersebut bisa digunakan untuk dijadikan situmulus untuk mengajari anak “functional comunication”.

·         Mengetahui sejauh mana kemampuan anak untuk berkomunikas, dan kemudian ditetapkan target kemampuan yang diharapkan. Misalkan, kalau anak belum sama sekali berkomunikasi, maka target perilaku komunikasi yang diharapkan adalah “menunjuk/komunikasi bahasa tubuh” dulu. Bila anak sudah bisa berbicara, maka targetnya adalah mengucapkan satu kata, dua kata, dan sebagainya.

·         Ciptakan situasi  dimana anak harus mengkomunikasikan apa yang dinginkan kepada orang lain. Misalkan, saat dia ingin menonton “Mickymouse”, kita letakan VCD mickymouse favoritnya di tempat yang anak tidak bisa menjangkaunya, kemudian minta dia untuk menunjuk ke tempat VCD diletakkan, atau ajarkan mengungkapkan kata “minta” kepada kita bila dia ingin kaset tersebut. 

·         Sesuai dengan target perilaku komunikasi yang sudah ditetapkan, pada awalnya, kita bantu dengan prompt verbal atau prompt model sehingga anak menerima pembelajaran komunikasi fungsional ini dengan jelas. Anak menerima pesan, bila dia ingin sesuatu dia harus mengatakan keinginannya pada orang lain dalam bentuk bahasa tubuh atau verbal. Disamping itu menghindari anak emosi atau marah karena memang belum mengerti apa yang kita inginkan darinya.  Pada awalnya dibantu anak, bila anak bisa mengikuti target perilaku komunikasi yang akan kita berikan, kemudian puji anak sebagai hadiah untuk memotivasi supaya anak untuk melakukan hal yang sama lagi. Setelah itu dicoba satu kali lagi latihan tersebut tanpa dibantu untuk memastikan apakah anak bisa mencapai keberhasilan sebelumnya. Bila anak bisa, berikan dia hadiah yang lebih besar lagi, seperti sorakan dan sebagainya. Bila anak tidak bisa cukup bilang “coba lagi ya?!”, setelah itu bantu anak sekali lagi dan langsung istirahatkan anak dari latihan tersebut, agar anak tidak “frustrasi”. Trial tersebut bisa dicoba pada kesempatan yang berbeda. Sebisa mungkin buat situasi menyenangkan bagi anak, mengingat komunikasi adalah masalah yang sulit buat anak penyandang autisme.

 

·         Pastikan dalam setiap latihan atau membangun situasi yang diciptakan, anak melakukan dengan jelas, termasuk kontak mata, bahasa tubuh yang dimaksud, artikulasi kata, dan sebagainya.

 

·         Evaluasi kemampuan anak, kemudian kembangkan “functional comunication” ini seterusnya. Misalkan, yang tadi hanya menunjuk, selanjutnya harus mengatakan benda yang dimaksud, atau yang tadinya satu kata, harus bisa dua kata dan sebagainya. Dengan begitu anak akan tertantang terus untuk berkomunikasi.

 

·         Yang terpenting adalah konsisten dalam menjalankan. Dalam arti semua orang dalam keluarga harus memperlakukan hal yang sama untuk anak, jadi anak mengerti itu adalah aturan main yang harus dia lakukan bila menginginkan sesuatu

 

 

 

 

 

Supported  by
CLINIC FOR CHILDREN

Yudhasmara Foundation

JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010

phone : 62(021) 70081995 – 5703646

http://childrenclinic.wordpress.com/

 

 

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.

 

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: