Posted by: Indonesian Children | April 25, 2009

Gangguan motorik oral, gangguan fungsi motorik dan gangguan perilaku pada anak dengan keterlambatan bicara

.
dr Widodo Judarwanto SpA
CHILDREN ALLERGY CLINIC
PICKY EATERS CLINIC JAKARTA INDONESIA
Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia
.
ILUSTRASI KASUS

Sandiaz, seorang anak laki-laki usia 2 tahun, dikonsultasikan kepada dokter bahwa anaknya mengalami keterlambatan bicara. Sebelumnya beberapa dokter mengatakan bahwa tidak perlu dikawatirkan bahwa akan membaik setelah usia tertentu. Ternyata seorang dokter anak lainnya berpendapat berbeda. Setelah dilakukan pemeriksaan dengan cermat meskipun normal ternyata anak tersebut juga mengalami gangguan oral motor berupa gangguan mengunyah menelan, gangguan keseimbangan motorik dan berberapa gangguan perilaku lainnya.

Pendahuluan

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.1 Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Keterlambatan bicara adalah keluhan utama yang sering dicemaskan dan dikeluhkan orang tua kepada dokter.2 Gangguan ini semakin hari tampak semakin meningkat pesat.

Beberapa peneliti mengungkapkan bahwa keterlambatan bicara sering dikaitkan dengan gangguan perkembangan, gangguan perilaku, gangguan motorik oral dan gangguan fungsi motorik lainnya. Bila berbagai gangguan yang tyerjadi hampir bersamaan tersebut tidak disikapi dengan baik,maka akan mengganggu tumbuh dan berkembangnya anak di masa depan.

Hubungan antara gangguan perkembangan bahasa, gangguan perkembangan motorik, dan gangguan oral motor.

Beberapa penelitian mengkaitkan masalah motorik anak dengan DSLDs (Developmental speech and language disorders), terutama pada fungsi motorik halus. Penelitian tersebut memperlihatkan secara signifikan anak-anak dengan DSLDs memiliki ketrampilan motorik lebih lambat dibanding anak-anak umumnya terutama koordinasi mata-tangan (antara lain pegboard, threading beads, fastening buttons, dan tapping). Problem-problem motorik yang diamati tidak dibatasi pada fungsi-fungsi motorik yang dipaksakan. Untuk ketrampilan motorik kasar dapat diamati ketrampilan melangkah, berlari, menaiki tangga, berdiri dengan satu kaki, melompat dengan satu kaki, berjalan jinjit, berjalan dengan tumit, dan ketrampilan-ketrampilan yang meliputi pengontrolan obyek atau aktivitas lokomotor pada anak dengan masalah bahasa yang relatif buruk dibandingkan anak lain pada umumnya. Disamping itu, keseimbangan pada satu kaki ternyata menjadi satu ukuran yang paling membedakan antara anak-anak dengan kelemahan spesifik bahasa dibanding anak-anak umumnya. Sebaliknya, hasil dari penelitian sebelumnya menemukan tidak ada perbedaan antara anak-anak dengan kelemahan spesifik bahasa dengan anak-anak umumnya dalam mempertahankan lamanya keseimbangan.1,2,4
Terdapat hubungan antara perkembangan bahasa dan gerakan kompleks oral. Anak dengan gerakan motorik oral yang buruk, biasanya kemampuan berbahasanya tidak bagus.9-11 Penelitian yang dilakukan Moore JA, menghubungkan antara kemampuan oral motor dan bicara, dimana berbicara memperlihatkan suatu gerakan sederhana yang menyerupai gerakan makan.10 Sedangkan penelitian yang dilakukan Dworkin JP, menghubungkan antara kemampuan oral motor dan bicara dengan gerakan-gerakan oral yang cepat dan berulang.11 Peneliti lain menyatakan bahwa makin sulit gerakan oral, makin berhubungan dengan kemampuan bicara, hal ini mungkin karena gerakan oral tersebut menyerupai suatu percakapan. Dari hasil ini, terlihat bahwa anak-anak yang gerakan motorik oralnya buruk sebelum usia dua tahun, juga memiliki kemampuan bahasa yang buruk. Anak-anak yang kemampuan motorik oralnya baik bagaimanapun akan mampu menggunakan bahasa pada spektrumnya. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan oral motor diperlukan dan prasyarat untuk kemampuan berbicara yang baik.1

Berdasarkan proses perkembangan bicara atau bahasa, perkembangan motorik pada anak, perkembangan oral motor pada anak sering dikaitkan dengan gangguan bicara pada anak.

Hubungan motorik anak dengan DLSDs8

Banyak penelitian telah menghubungkan masalah motorik anak dengan DSLDs terutama fungsi motorik halus. Penelitian ini memperlihatkan secara signifikan anak-anak dengan DSLDs memiliki motorik lebih lambat dibanding anak-anak umumnya terutama koordinasi mata-tangan(antara lain pegboard, threading beads, fastening buttons, and tapping). Untuk kemampuan motorik kasar dapat diamati kemampuan melangkah, berlari, menaiki tangga, berdiri dengan satu kaki, melompat dengan satu kaki, berjalan jinjit, berjalan dengan tumit, dan kemampuan-kemampuan yang meliputi pengontrolan obyek atau aktivitas lokomotor pada anak dengan masalah bahasa yang relatif buruk dibanding anak lain pada umumnya. Keseimbangan pada satu kaki ternyata menjadi satu ukuran yang paling membedakan antara anak-anak dengan gangguan spesifik bahasa dibanding anak-anak umumnya. Sebaliknya, hasil dari penelitian sebelumnya menemukan tidak ada perbedaan antara anak-anak dengan gangguan spesifik bahasa dengan anak-anak umumnya dalam mempertahankan lamanya keseimbangan.1

Fakta-fakta klinis memperlihatkan hasil bermakna adaanya keterkaitan antara DSLDs dengan masalah-masalah motorik; bagaimanapun kedua hal itu merupakan suatu catatan. Pertama, pada pengamatan selama penelitian terlihat hampir tidak-adanya perhatian untuk mengembalikan ketrampilan bola pada anak-anak dengan DSLDs, meskipun dalam melakukan ketrampilan ini secara jelas terdapat koordinasi mata-tangan, tergantung pada control keseimbangan, dan pentingnya kontribusi untuk interaksi sosial anak-anak tersebut dengan grup bermainnya. Anak-anak dengan DSLDs mempunyai masalah-masalah sosial, karena mereka kesulitan komunikasi, ketrampilan bola yang tidak cukup, lebih jauh adanya keterbatasan kemampuan anak-anak untuk berinteraksi sosial dan fisik dengan kelompok bermainnya. Hill menyatakan bahwa subgrup anak-anak dengan DSLDs memiliki kemampuan berbeda dalam fungsi motorik halus. Bishop melakukan penelitian yang lebih spesifik-subtipe tentang perbedaan hubungan motorik yang diamati pada anak kembar dan menemukan hasil yang menarik. Penelitian pada anak kembar ini dimana satu atau kedua kembar mempunyai gangguan bicara/bahasa dibandingkan kelompok kontrol anak normal, dia menemukan bahwa anak-anak dengan kombinasi gangguan bicara dan bahasa memperoleh total nilai yang lebih buruk pada pegboard dan tapping daripada kelompok kontrol. Lebih jauh dia menyimpulkan bahwa hubungan antara gangguan bicara/bahasa dan masalah motorik adalah lebih kuat untuk gangguan bicara daripada gangguan bahasa. Hal ini penting untuk menambah pemahaman profil kemampuan subgroup anak dengan DSLDs, karena informasi ini bisa digunakan untuk memberikan cara-cara yang efektif untuk intervensi.1
Penelitian lain menunjukkan adanya profil motorik pada anak dengan DSLDs dikaitkan dengan gangguan bicara dan gangguan bahasa.1

Kontrol motorik Oral dan bahasa

Kontrol motorik telah lama dihubungkan dengan kemampuan bahasa. Suatu penelitian oral motor kontrol dalam tiga grup: dewasa dengan afasia didapat, individual dengan perkembangan disfasia, secara khas perkembangan bahasa pada anak-anak. Orang-orang dengan kesulitan bicara dan bahasa, oral motor kontrolnya lemah. Gerakan yang lebih kompleks dan koordinasi dari gerakan tersebut sama sulitnya bagi orang-orang dengan kelemahan bahasa. Secara khusus dalam perkembangan anak-anak(21-24 bulan), control oral motor ditemukan berhubungan dengan ketrampilan bahasa. Dalam studi tersebut, terdapat hubungan yang lebih erat antara bahasa dan gerakan kompleks oral daripada gerakan oral yang sederhana. Anak-anak yang gerakan oral motornya buruk maka bahasanya tidak baik, meskipun anak-anak yang gerakan oral motornya baik dapat juga memiliki kemampuan bahasa yang tidak baik. Ketrampilan oral motor mungkin merupakan pertanda yang dibutuhkan untuk ketrampilan bahasa.

Pengalaman klinis yang menghubungkan antara motor kontrol dan bahasa
Pada pemeriksaan hubungan antara perkembangan motor kontrol dan bahasa dan gangguannya, terdapat perbedaan antara besarnya jumlah yang diketahui tentang motor kontrol anggota tubuh dan sedikit yang diketahui tentang motor kontrol oral. Sebagai contoh, telah lama diketahui bahwa fase pertama dari perkembangan bahasa terjadi sejajar dengan fase pertama perkembangan gestural, dan anak-anak yang fase gesturalnya lebih awal dari rata-rata biasanya juga mengucapkan kata-kata pertamanya lebih awal dari rata-rata.2 Data terakhir memperlihatkan bahwa anak-anak yang terlambat memulai baik komunikasi gestural dan percakapan bahasa secara spontan, lebih mungkin untuk mengalami keterlambatan daripada anak-anak yang memulai komunikasi gestural pada umur yang sesuai tetapi juga mengalami keterlambatan bicara.3

Hill dkk menyebutkan adanya hubungan yang kuat antara kesulitan motor kontrol anggota tubuh dan kelemahan bahasa.4 Ternyata faktor genetik ikut berperan dalam keterkaitan antara kontrol motorik tubuh dan gangguan bahasa, seperti yang diungkapkan oleh Bishop.5 Ketidakseimbangan dalam penelitian ini masih ada, meskipun kenyataannya mayoritas pengguna bahasa yang bicara. Sekarang terjadi perubahan dalam perkembangan ketrampilan oral motor.

Banyak penelitian mengenai hubungan antara oral motor kontrol nonverbal dan perkembangan bahasa diinspirasi oleh berbagai studi yang memperlihatkan bahwa disfungsi bahasa dan disfungsi oral motor sering terjadi bersamaan. Suatu penelitian memperlihatkan adanya kesamaan pola pada kelemahan perkembangan dengan dyspraksia verbal yang didapat.6

Gangguan bicara dan gangguan perkembangan dan perilaku
Mateer secara umum telah mendapatkan keterkaitan antara oral dispraksia yang didapat dan dysphasia yang di dapat.7 Meskipun disosiasi diantara keduanya juga telah diungkapkan oleh peneliti lainnya. 8 Keterkaitan tersebut cukup sering untuk menegaskan adanya hubungan di anatara beberapa faktor; disosiasi saat dewasa didapat disfungsi yang tidak bermanfaat untuk menjelaskan modularitas dalam perkembangan.9

Gangguan ketrampilan motorik oral ternyata didapatkan pada beberapa gangguan perkembangan pada anak, dimana juga terjadi gangguan bicara. Gangguan seperti itu biasanya terjadi dalam gangguan autism.10,11 Gangguan motorik oral pada anak-anak autistic lebih sering ditemukan daripada adanya gangguan motorik pada anggota tubuh. Gangguan kontrol motorik oral sering juga ditemukan pada Sindrom Down. Kelainan tersebut tampak tidak hanya dari gangguan motorik oral tetapi meliputi derajat dispraksia.12,13,14 Pada anak-anak dengan gangguan bahasa spesifik, sangat sedikit penelitian mengenai faktor kontrol motorik oral, tetapi telah ditemukan adanya hubungan. Seperti yang telah diteliti oleh Stark ditemukan bahwa korelasi antara ketrampilan motorik oral motor dengan pengulangan bukan kata dan identifikasi fonem pada SLI.1

Stackhouse mengungkapkan bahwa perkembangan dispraksia verbal tidak akan timbul tanpa adanya dispraksia oral nonverbal.15 Berdasarkan pemikiran ini, telah dilakukan penelitian tentang kemampuan motorik oral dari suatu kelompok gangguan perkembangan bicara dan bahasa.

Pada sebuah penelitian didapatklan keterkaitan perkembangan control motorik oral dan gangguan bicara dan bahasa yang didapat. Gangguan bicara dan bahasa spesifik yang terjadi pada anak-anak antara 2-7%. Penderita kelompok ini tidak mempunyai ketidakmampuan belajar secara global, kelemahan sensori, atau kelemahan sosial seperti gangguan spektrum autistik, yang bisa menjelaskan keterlambatan bahasanya.

Kemampuan berbicara yang baik, pada penderita dengan SLI akan mempunyai IQ nonverbal dalam batas-batas normal. Ditemukan banyak fakta klinis, bahwa SLI juga dipengaruhi faktor genetik dan faktor keturunan yang bisa mengikuti pola ini. Kelompok keluarga ini mempunyai sekitar 30 anggota keluarga dalam tiga generasi yang 50%nya mempunyai kelemahan bicara dan bahasa, dan pola ini diwariskan secara dominan. 16

Ketrampilan bahasa dari keluarga tertentu pertama kali dilaporkan oleh

Gopnik dan Crago, yang menyatakan mereka mempunyai problem spesifik dengan pembentukan kata kerja regular past tense forms, dan terutama mereka tidak punya problem artikulasi yang signifikan pada masa kanak-kanak dulu.17 Pinker selanjutnya menegaskan bahwa keluarga tersebut tidak menyerupai individu aphasia dewasa dengan bahasa mereka atau lainnya.18 Sedangkan Vargha-Khadem dkk menemukan bahwa pengaruh anggota keluarga yang mempunyai kesulitan dengan regular dan irregular past tense, gangguan struktur gramatikal lainnya, sama halnya dengan kebanyakan tes-tes bicara dan bahasa lainnya, pada anggota keluarga yang terpengaruh mempunyai skore IQ lebih rendah dibandingkan anggota keluarga yang tidak terpengaruh.19 Penemuan ini telah menunjukkan bahwa ketrampilan nonverbal juga terpengaruh. Sedangkan untuk ketrampilan motorik oral, ketrampilan nada dan tempo dalam bermusik, seringkali ditemukan pada individu-individu dengan gangguan motorik oral dan gangguan bicara dan bahasa pada sebuah kelompok dari penderita dengan lesi pada hemisper kiri. Diduga ada kemungkinan terdapat defisit neural bilateral pada anggota keluarga yang terkena. Hal ini adalah fakta klinis yang penting,20 sama pentingnya dengan hemisper kanan yang meliputi oral praksis.21



Kesimpulan
  1. Gangguan bicara danberbahasa sering disertai gangguan motorik oral, fungsi motorik dan gangguan perilaku pada anak.
  2. Penanganan gangguan bicara dan bahasa harus dilakukan penanganan secara holistic, bukan sekedar teapi bicara
  3. Terapi okupasi sensori integration tampaknya merupakan terapi okupasi yang dapat menangani secara sinergis berbagai gangguan yang terjadi bersamaan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

  1. D’odorico L, Assanelli A. A follow up study on Italian late talkers: Development of language, short –term memory, phonological awareness, impulsiveness, and attention. Applied Psycholingistics 28(2007),157-169.
  2. Bates E, Dale PS, Thal D. Individual differences and their implications for theories of language development. In P. Fletcher & B. MacWhinney (Eds.), The Handbook of Child Language (pp. 96-151). Oxford, UK: Blackwell.Bates, E. & Goodman, J. C. (1997). On the inseparability of grammar and the lexicon: Evidence from acquisition, aphasia and real-time processing. Language and Cognitive Processes 1995, 12(5-6), 507-584.
  3. Thal DJ, Bates E, Goodman J, Jahn-Samilo J. Continuity of language abilities: An exploratory study of late- and early-talking toddlers. Developmental Neuropsychology 1997, 13, 239-273.
  4. Hill EL. Non-specific nature of specific language impairment: a review of the literature with regard to concomitant motor impairments. International Journal of Language & Communication Disorders 2001, 36(2), 149-171.
  5. Bishop DVM. Motor immaturity and specific speech and language impairment: Evidence for a common genetic basis. American Journal of Medical Genetics 2002, 114(1), 56-63.
  6. Alcock KJ, Passingham RE, Watkins KE, Vargha-Khadem F. Oral Dyspraxia in Inherited Speech and Language Impairment and Acquired Dysphasia. Brain & Language 2000, 75(1), 17-33.
  7. Mateer C, Kimura D. Impairment of non-verbal oral movements in aphasia. Brain and Language 1997, 4, 262-276.
  8. Masdeu JC, O’Hara RJ. Motor aphasia unaccompanied by faciobrachial weakness. Neurology 1983, 33, 519-521.
  9. Karmiloff-Smith A. Development itself is the key to understanding developmental disorders. Trends in Cognitive Sciences 1998, 2(10), 389-398.
  10. Adams L. Oral-motor and motor-speech characteristics of children with autism. Focus on Autism and Other Developmental Disabilities 1998, 13(2), 108-112.
  11. Amato JJ, Slavin D. A preliminary investigation of oromotor function in young verbal and nonverbal children with autism. Infant Toddler Intervention 1998, 8(2), 175-184.
  12. Kumin L, Adams J. Developmental apraxia of speech and intelligibility in children with Down syndrome. Down Syndrome Quarterly 2000, 5(3), 1-7.
  13. Kumin L, Bahr DC. Patterns of feeding, eating and drinking in young children with Down syndrome with oral motor concerns. Down Syndrome Quarterly 1999, 4(2), 1-8.
  14. Spender Q, Dennis J, Stein A, Cave, D. Impaired oral-motor function in children with Down’s syndrome: A study of three twin pairs. European Journal of Disorders of Communication 1995, 30(5), 77-87.
  15. Stackhouse J, Snowling M. Developmental verbal dyspraxia II: A developmental perspective on two case studies. European Journal of Disorders of Communication 1992, 27, 35-54
  16. Fisher S, Vargha-Khadem F, Watkins KE, Monaco AP, Pembry, ME. Localisation of a gene implicated in a severe speech and language disorder. Nature Genetics 1998, 18, 168.
  17. Gopnik, M. & Crago, M. B.. Familial aggregation of a developmental language disorder. Cognition 1991, 39, 1-50.
  18. Pinker, S. (1995). The Language Instinct (1st ed.). New York: HarperPerennial.Qvarnstrom, M. J., Jaroma, S. M. & Laine, M. T. (1994). Changes in the peripheral speech mechanism of children from the age of 7 to 10 years. Folia Phoniatrica et Logopaedica, 46(4), 193-202.
  19. Vargha-Khadem F, Watkins K, Alcock KJ, Fletcher P, Passingham R. Praxic and nonverbal cognitive deficits in a large family with a genetically transmitted speech and language disorder. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 1995, 92(3), 930-933.
  20. Watkins KE, Vargha-Khadem F, Ashburner J, Passingham RE, Connelly A, Friston KJ et al. MRI analysis of an inherited speech and language disorder: structural brain abnormalities. Brain 2001, 125, 465-478.
  21. Bizzozero I, Costato D, Della Sala S, Papagno C, Spinnler H, Venneri A. Upper and lower face apraxia: role of the right hemisphere. Brain 2002, 123, 2213-2230.

 

Supported  by
CLINIC FOR CHILDREN

Yudhasmara Foundation

JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010

phone : 62(021) 70081995 – 5703646

http://childrenclinic.wordpress.com/

 

 

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.

 


Responses

  1. Salam kenal.

    Apakah anak dengan ketidak-mampuan secara verbal dispraksia, bila dilakukan terapi bisa bersekolah di sekolah umum?
    Terima kasih.

  2. Anak saya hanivah (8), belum bisa bicara. Saat ini menjalani terapi di YPAC semarang. Kata terapisnya anak saya penyandang dispraxya, adakah hubunganya dgn autis?, saya tertarik dgn terapi lumba-lumba di kendal.Mohon penjelasan tentang terapi tsb.Terima kasih..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: