Posted by: Indonesian Children | April 25, 2009

BABY SIGN ATAU BAHASA ISYARAT PADA BAYI, APAKAH ITU ?



BAHASA ISYARAT SEBAGAI ALAT KOMUNIKASI DAN STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK
Dr Widodo Judarwanto SpA

Manusia berinteraksi satu dengan yang lain melalui komunikasi dalam bentuk bahasa. Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan tulisan, bacaan,tanda, symbol atau bahasa isyarat. Berbahasa itu sendiri merupakan proses kompleks yang tidak terjadi begitu saja. Manusia berkomunikasi lewat bahasa memerlukan proses yang berkembang dalam tahap-tahap usianya. Bukan hanya kaum tuna rungu yang dapat menggunakan bahasa isyarat. Dalam beberapa penelitian menyebutkan ternyata bayi juga bisa diajarkan bahasa isyarat. Bahasa isyarat adalah bahasa yang mengutamakan komunikasi manual, bahasa tubuh, dan gerak bibir, bukannya suara, untuk berkomunikasi. Bahasa isyarat biasanya dengan mengkombinasikan bentuk tangan, orientasi dan gerak tangan, lengan, dan tubuh, serta ekspresi wajah untuk mengungkapkan pikiran mereka.

Bahasa isyarat pada bayi atau anak usia muda di berbagai negara telah lama digunakan dan dipopulerkan sebagai parenting tool oleh baby sign, Sign2Me atau pebisnis edukasi lainnya untuk berkomunikasi antara orangtua dan bayi. Berbagai alat dan perlengkapan yang ditawarkan bervariasi dari buku, audiovisual, sampai flashcard. Meskipun metode ini bukanlah sesuatu yang baru tetapi di Indonesia belum banyak dikenal dan dilakukan oleh para orangtua.
Dalam setiap
negara, bahasa isyarat yang digunakan berbeda dalam jumlah dan jenisnya. Bahasa isyarat bisa saja berbeda di negara yang berbahasa sama. Amerika Serikat dan Inggris meskipun memiliki bahasa tulis yang sama, ternyata memiliki bahasa isyarat yang berbeda. Amerika menggunakan bahasa isyarat American Sign Language sedangkan Ingris menggunakan British Sign Language. Sebaliknya ada negara yang memiliki bahasa tertulis yang berbeda, namun menggunakan bahasa isyarat yang sama. Berbagai metode dan buku tentang bahasa isyarat telah diterbitkan. Sebagian besar metoda bahasa isyarat tersebut mengacu pada American Sign Language (ASL).
Usia anak khususnya bayi mempunyai perkembangan bahasa dan bicara yang unik. Setiap tahapan usia kemampuan perkembangan bahasa dan bicaranya semnakin bertambah baik. Meskipun demikian terdapat juga beberapa bayi atau anak berbeda perkembangan bicara danbn bahsanya. Ada sekelompok anak dengan kemampuan bicaranya di atas rata-rata, namun sebaliknya terdapat kelompok anak lainnya perkembangan bahasa dan bicaranya tidak sesuai dengan perkembangan normal.
BAHASA ISYARAT
Dalam perkembangan kemampuan bahasa bayi berbeda dalam setiap tahapan usia. Pada umumnya kemampuan verbal akan lebih banyak setelah usia 15 bulan. Sebelum usia tersebut karena keterbatasannya, anak belum dapat mengartikulasikan kebutuhan dan keinginan secara verbal. Meskipun sebenarnya pemahaman dan daya tangkap anak seusia tersebut terhadap bahasa jauh melebihi dari dugaan selama ini.
Bahasa isyarat termasuk salah satu aktifitas yang menstimulasi perkembangan bahsa pada anak. Ternyata bahasa isyarat membantu anak usia di bawah tiga tahun yang masih belum mampu berbicara untuk dipahami orang disekelilingnya. Berdasarkan kondisi tersebut upaya anak untuk belajar bahasa isyarat sejak bayi justru lebih termotivasi berbicara di masa verbalnya. Penggunaan bahasa verbal saat usia batita baru bisa menyebut beberapa suku kata seperti “ba”. Mungkin saja konotasi bahasa “ba” tadi dapat berupa “bola”, “bapak”, “buku” atau benda lain berawalan konsonan “b”. Namun dengan bahasa isyarat, sejak dini anak dapat mengungkapakan secara pasti perbedaan tersebut. Bila komunikasi yang disampaikan bayi dapat dipahami dengan baik, maka beban psikologis atau beban emosi orangtua dapat diminimalkan. Berdasarkan permasalahan tersebut tampaknya bahasa isyarat dapat digunakan dalam menutupi kesenjangan komunikasi antara orangtua dan anak.
PENELITIAN MANFAAT BAHASA ISYARAT PADA BAYI
Dalam sehari-hari sebenarnya tanpa disadari anak sudah menggunakan bahasa isyarat. Bayi dan batita terbiasa menggunakan bahasa isyarat sebagai bagian dari proses komunikasinya. Sebagian besar bayi mengetahui cara melambaikan tangan untuk mengucapkan selamat tinggal atau menggerakkan tangan yang berarti tidak. Profesor Fakultas Psikologi di California State University Susan Goodwyn dan Profesor Emeritus dari Fakultas Psikologi di University of California Linda Acredelo telah meneliti bahasa isyarat untuk mengoptimalkan perkembangan bicara dan bahasa pada bayi dan anak normal.
Manfaat bahasa isyarat terhadap keterampilan berkomunikasi secara verbal dan isyarat. Orangtua dapat mengajarkan anak bahasa isyarat di usia berapa pun, pada saat anak pada masa pra-verbal. Telah dilakukan penelitian terhadap sekitar 140 keluarga dengan bayi berusia 11 bulan. Seluruh keluarga secara acak diajak menggunakan bahasa isyarat dan sebagian lagi tidak menggunakan bahasa isyarat. Hasil penelitian menunjukkankan, pada usia 24 bulan, bayi-bayi yang diajarkan menggunakan bahasa isyarat dapat lancar berbicara pada usia 27-28 bulan. Sedangkan bayi yang tidak belajar bahasa isyarat, berbicara lebih lambat sekitar tiga bulan. Bayi berusia 24 bulan yang diajarkan bahasa isyarat dapat menyusun kalimat yang lebih panjang secara bermakna.
Kemampuan bahasa anak-anak usia 36 bulan yang diajarkan bahasa isyarat sama dengan kemampuan bahasa anak usia 47 bulan tanpa bahasa isyarat. Pada umumnya, balita mulai berkomunikasi verbal antara usia 12 hingga 15 bulan. Pada usia sebelumnya, bayi belum dapat mengartikulasikan kebutuhan dan keinginan secara verbal. Tetapi, menurut para ahli, pemahaman dan daya tangkap anak-anak terhadap bahasa jauh melebihi yang diduga.
Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa bahasa isyarat ternyata dapat mengoptimalkan perkembangan bicara dan bahsa pada anak. Berkomunikasi dengan cara ini ternyata dapat memotivasi bayi berbicara. Dalam penelitian tersebut juga menepis anggapan bahwa mengajarkan bahasa isyarat pada bayi dan anak batita (bawah tiga tahun) dapat mengganggu perkembangan bahasa verbal pada anak.
Lora Heller peneliti bahasa isyarat lainnya mengungkapkan bahwa bahasa isyarat membantu batita yang masih belum mampu bicara dipahami orang-orang disekelilingnya. Berdasarkan penelitian di lembaga anak-anak yang belajar bahasa isyarat sejak bayi justru lebih termotivasi berbicara pada masa verbalnya. Anak-anak di masa belajar bicara verbal biasanya baru bisa menyebut “ba” yang mengacu bola, buku atau benda lain berawalan konsonan “b”. Dengan bahasa isyarat, anak-anak disini dapat menyatakan secar detil, “Aku mau buku itu”.Jadi orangtua dapat mengurangi perasaan frustasi tanpa harus menebak.
Mayberry RI, peneliti McGill University Montreal Quebec, mengungkapkan bila anak telah diperkenalkan pada beberapa jenis bahasa sejak bayi entah itu bahasa yang diucapkan atau bahasa isyarat akan meningkatkan kemapuan berbahasanya di kemudian hari. Hal ini terjadi baik pada anak dengan gangguan pendengaran atau anak yang pendengarannya normal.
Anak dengan gangguan pendengaran dan anak yang memiliki pendengaran sempurna, yang sejak bayi oleh orangtuanya diperkenalkan pada bahasa isyarat atau diajak berbahasa lisan, ternyata lebih cepat pula mempelajari dan memahami bahasa sehari-hari dan bahasa lain diluar bahasa yang digunakan sehari-hari- ketika mereka dewasa. Perkembangan sistem visual membutuhkan rangsangan sejak dini agar daya tangkap atau kemampuan manusia untuk memahami sesuatu berkembang sempurna.
Penelitian penggunaan bahasa isyarat ternyata dapat meningkatkan pemahaman bahasa. Dalam penelitaian kasus-kontrol dinilai seberapa besar pengaruh pengenalan bahasa sejak usia dini terhadap kemampuan anak mempelajari dan memahami bahasa di kemudian hari. Populasi penelitian ini adalah kelompok yang terdiri dari anak usia 9-15 tahun dengan gangguan pendengaran yang tengah belajar bahasa isyarat atau American Sign Language (ASL). Populasi dalam penelitian tersebut dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok pertama adalah anak yang memiliki kemampuan mendengar ketika dilahirkan, tetapi beberapa saat kemudian tuli setelah terinfeksi sejenis virus. Kelompok ini telah diperkenalkan pada bahasa lisan sejak bayi. Kemudian dibandingkankan dengan kelompok kedua, terdiri dari anak dengan gangguan pendengaran sejak lahir dan hanya sedikit diperkenalkan bahasa lisan atau bahasa isyarat sampai belajar bahasa di sekolah.
Didapatkan hasil bahwa anak yang diperkenalkan dan dibiasakan orangtuanya mempelajari bahasa isyarat dengan baik sejak lahir baik mengerti atau tidak, ternyata lebih fasih dan lancar menggunakan bahasa itu saat dewasa dibandingkan kelompok anak yang tidak dibiasakan mempelajarinya hingga usia sekolah.

Berbagai kontroversi dan kekawatiran muncul, apakah bahasa isyarat akan membuat kemampuan bicara pada anak nantinya akan terganggu. Terhadap berbagai anggapan tersebut ternyata telah diteliti pengaruh bahasa isyarat terhadap kemampuan bahasa lisan ketika mereka mulai sekolah.

Telah dilakukan penelitian terhadap anak usia 4-13 tahun yang belajar bahasa Inggris di sekolah. Kelompok pertama, terdiri dari anak dengan gangguan pendengaran dan tidak banyak diperkenalkan pada bahasa sejak sebelum usia sekolah. Kelompok kedua adalah anak dengan gangguan pendengaran tetapi telah diperkenalkan pada bahasa isyarat sejak bayi. Sedangkan kelompok ketiga adalah anak yang pendengarannya normal dan telah mengenal bahasa sejak dilahirkan. Ternyata didapatkan hasil bahwa anak dengan gangguan pendengaran dan anak normal, yang belajar bahasa isyarat dan bahasa lisan (untuk anak normal) sejak lahir, menunjukkan kemampuan bahasa lebih baik ketika kemudian mereka mempelajarinya di sekolah.
Sedangkan kelompok anak yang tidak dibiasakan mempelajarinya sebelum usia sekolah, memiliki kemampuan dan pemahaman bahasa yang rendah di sekolah. Dari penelitian tersebut diduga bahwa kemampuan berbahasa tampaknya adalah merupakan suatu sinergi antara pengenalan bahasa sejak dini dan perkembangan otak sejak dini. Jika anak tidak diperkenalkan dan belajar bahasa sejak usia dini, kecakapannya mempelajari dan memahami bahasa sulit berkembang, baik bahasa sehari-hari atau bahasa lain.
Pengalaman keluarga yang menerapkan bahasa isyarat dengan bayi, menunjukkan dalam kehidupan sehari-hari dari mengurangi masalah psikologis yang ada. Selain anak dapat mengekspresikan dan mengartikulasikan secara spesifik keinginan dan kebutuhannya. Orang tua juga relatif lebih mudah memahami dan mengenali kebutuhan anak. Kondisi seperti ini menjadi pengaruh positif bagi perkembangan emosi, bahasa dan sosialisasi anak.
Penelitian lain bahkan juga menunjukkan adanya perbedaan bermakna pada bayi yang diajarkan bahasa isyarat dalam peninghkatan kecerdasan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas California, terhadap bayi yang menggunakan bahasa tubuh dalam berkomunikasi dengan orang tuanya memperlihatkan adanya perkembangan bicara yang sangat baik. Bayi yang memakai bahasa isyarat ternyatamemiliki nilai tes kecerdasan lebih tinggi, memahami lebih banyak kosa kata, menguasai kosa kata dalam jumlah besar dan mampu berpastisipasi dalam permainan kompleks dibandingkan bayi pada umumnya.
MANFAAT BAHASA ISYARAT
  • Membangun rasa percaya dan meningkatkan interaksi. Secara psikologis bayi akan merasa lebih dekat dengan orang yang berkomunikasi. Dengan mengerti apa yang dikomunikasikan bayi, orangtua menjadi lebih mengetahui kebutuhan yang diinginkan bayi saat itu.
  • Mendorong berkomunikasi lebih awal. Sebenarnya bayi usia muda, dengan kemampuan pergerakan koordinasi mulut yang belum sempurna, mempunyai keterbatasan dalam berbahasa. Meskipun terdapat beberapa parameter kemampuan bahasa yang dapat dinilai dengan bunyi-bunyian yang keluar dari mulut atau mimic muka dan posisi tubuh bayi. Dengan keterbatasanya tersebut tampaknya bahasa isyarat dapat digunakan untuk alternatif dalam berkomunikasi.
  • Mengurangi frustasi orangtua dan anak. Kesulitan berkomunikasi dengan anak akan menimbulkan perasaan yang cemas dan frustasi baik pada anak dan orangtua. Seringkali orangtua tidak mengetahui keinginan anak, sebaliknya anak sulit mengungkapkan keinginannya. Apalagi ungkapan yang membingungkan tersebut disertai tangisan yang hebat. Dengan bahasa isyarat kesenjangan komunikasi dapat diminimalkan, pada akhirnya membuat perasaan orangtua lebih nyaman bila keinginan anak dapat dipahami.
  • Meningkatkan rasa percaya diri. Dengan mengetahui bahwa apa yang dikatakannya dimengerti oleh orang tua, anak menjadi lebih semangat untukberkomunikasi. Selain itu anak akan lebih berani berkomunikasi dengan orang yang di sekitarnya.

 

METODA UMUM MENGGUNAKAN BAHASA ISYARAT

Bahasa isyarat untuk bayi yang dikembangkan tersebut tampaknya mudah dipraktekkan secara langsung oleh para orangtua di rumah. Sebenarnya tanpa disadari bahasa isyarat telah banyak digunakan oleh para orangtua. Ketika orangtua menyanyikan lagu untuk menidurkan anak dan menggendong mereka sesuai dengan irama, serta menggoyangkan tangan. Bila orangtua sedang memarahi anaknya dengan lembutpun, tampak tanpa disadari mengacungkan telunjuknya ke wajah si bayi. Sebenarnya orangtua telah membantu anak mempelajari bahasa isyarat yang dapat berguna untuk mengembangkan pemahaman anak, selain dari pemahaman terhadap lagu tersebut. Bahasa isyarat bayi melibatkan unsur gerak tubuh (gesture), mimik dan bahasa verbal.

Di Amerika Serikat telah terbit kamus lengkap bahasa standar isyarat bayi yang berbasis bahasa Inggris-Amerika. Di berbagai Negara tentunya akan terdapat perbedaan dalam bahasa isyaratnya. Di Indonesia dalam mengajarkan berbahasa isyarat tentunya berdasarkan bahasa Indonesia, sehingga mungkin saja sedikit berbeda bila menggunakan mengikuti kamus standar Amerika. Mungkin karena perbendaharaan kata dalam bahasa isyarat pada bayi tidak sebanyak seperti orang dewasa, bisa sebagian bahasa isyarakat mereka sebagian diadopsi untuk dipakai.

Memang saat ini, belum didapatkan bahasa isyarat dalam bahasa Indonesia. Tetapi bahasa isyarat yang digunakan tidak harus dengan bahasa Ingris atau bahasa asing tertentu. Orangtua dengan bahasa yang sehari-hari digunakanp[un dapat melakukan bahasa isyarat. Secara umum bahasa isyarat yang sering digunakan adalah kata kerja yang berkaitan dengan aktifitas bayi sesuai , seperti minum susu, minum ASI, makan, makan biskuit, minum dan sebagainya.

  • Dalam berbahasa isyarat harus disertai gerakan yang lemah lembut dan perasaan kasih sayang.
  • Gunakan bahasa isyarat sebelum dan selama melakukan aktivitas sambil menyebutkan secara verbal.
  • Bersikaplah konsisten dan jangan berganti-ganti bahasa isyarat yang digunakan, karena akan membingungkan anak.
  • Gunakan terus bahasa isyarat secara terus menerus dan berkesinambungan sampai anak akhirnya memberikan reaksi menggunakan tanda yang sama. Biasanya hasil yang bermakna akan terlihat ketika anak memasuki usia 6-8 bulan.
  • Ajarkan dalam posisi sejajar secara visual dengan si kecil. Semua orang yang terlibat komunikasi dengan anak di rumah harus mengetahui dan menggunakan metoda dan cara yang sama.
  • Lakukan terus menerus dan dengan pertambahan usia tingkatkan perbendaharaan bahasa isyarat yang digunakan.
  • Setiap bahasa isyarat yang dikuasai anak harus selalu diingat. Lebih baik menggunakan catatan pribadi semacam kamus agar tak lupa.
  • Dapat dilakukan kapanpun terutama untuk anak bawah usia tiga tahun terutama bayi, lebih baik saat sejak usia dini.
  • Jangan memberikan pelajaran bahasa isyarat yang berlebihan diluar kemampuan bayi.
  • Sesuaikan bahasa isyarat dengan kemapuan perkembangan motorik anak sesuai usianya. Misalnya jangan mengajari gerakan menunjukkan ibu jari pada anak usia 6 bulan yang belum mampu pergerakan motoriknya seperti itu.
  • ASL dijadikan acuan supaya bahasa isyarat yang anda pergunakan juga dapat dimengerti oleh pengguna dari belahan dunia lain. Dengan mengacu pada standar yang ada, akan mempermudah komunikasi lintas komunitas. Tapi jika anak telah menciptakan sendiri isyarat yang lebih mudah bagi bahasa tertentu tak perlu paksakan untuk menggantikannya dengan isyarat baku.

END POINTS :

  • Bahasa isyarat berguna sebagai upaya untuk meminimalkan masalah komunikasi orangtua dan anak, yang terjadi karean adanya keterbatasan kemampuan bahasa pada anak usia bawah tiga tahun.
  • Bahasa isyarat ternyata dapat menstimulasi kemampuan perkembangan bicara, bahasa dan kecerdasan di masa akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Sandler, Wendy; & Lillo-Martin, Diane. (2001). Natural sign languages. In M. Aronoff & J. Rees-Miller (Eds.), Handbook of linguistics (pp. 533-562). Malden, MA: Blackwell Publishers.
  2. Susan Goodwyn, Linda Acredolo, and Catherine Brown (2000). Impact of symbolic gesturing on early language development. Journal of Nonverbal Behavior, 24 (2), pp. 81-103.
  3. Acredolo, L. P., & Goodwyn, S.W. (July 2000). The long-term impact of symbolic gesturing during infancy on IQ at age 8.
  4. Brie Moore, Linda Acredolo, & Susan Goodwyn (April 2001). Symbolic gesturing and joint attention: Partners in facilitating verbal development.
  5. Linda Acredolo and Susan Goodwyn (1985). Symbolic gesturing in language development: A case study. Human Development, 28, 40-49.
  6. Linda Acredolo and Susan Goodwyn (1988). Symbolic gesturing in normal infants. Child Development, 59, 450-466.
  7. Linda Acredolo and Susan Goodwyn (1990). The significance of symbolic gesturing for understanding language development. In R. Vasta (Ed.), Annals of Child Development (Vol. 7, pp. 1-42). London: Jessica Kingsley Publishers.
  8. Susan Goodwyn and Linda Acredolo, (1993). Symbolic gesture versus word: Is there a modality advantage for onset of symbol use? Child Development, 64, 688-701.
  9. Linda Acredolo, L. P., & Goodwyn, S.W. (1997). Furthering our understanding of what humans understand, Human Development, 40, 25-31.
  10. Susan Goodwyn and Linda Acredolo (1998). Encouraging symbolic gestures: Effects on the relationship between gesture and speech. In J. Iverson & S. Goldin-Meadows (Eds.) The nature and functions of gesture in children’s communication (pp. 61-73). San Francisco: Jossey-Bass.
  11. Linda Acredolo, Susan Goodwyn, Karen Horobin, and Yvonne Emmons (1999). The signs and sounds of early language development. In L. Balter & C. Tamis-LeMonda (Eds.), Child Psychology: A Handbook of Contemporary Issues (pp. 116 – 139). New York: Psychology Press.
  12. Goodwyn, S.W.,Acredolo, L.P., & Brown, C. (2000). Impact of symbolic gesturing on early language development. Journal of Nonverbal Behavior. 24,81-103.
  13. Acredolo, L. P., & Goodwyn, S.W. (July 2000). The long-term impact of symbolic gesturing during infancy on IQ at age 8. Paper presented at the meetings of the International Society for Infant Studies, Brighton, UK.
  14. Brie Moore, Linda Acredolo, & Susan Goodwyn (April 2001). Symbolic gesturing and joint attention: Partners in facilitating verbal development. Paper presented at the Biennial Meetings of the Society for Research in Child Development.

 

 

Supported  by
CLINIC FOR CHILDREN

Yudhasmara Foundation

JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010

phone : 62(021) 70081995 – 5703646

http://childrenclinic.wordpress.com/

 

 

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.

 


Responses

  1. […] Bahasa Isyarat sebagai alat komunikasi dan stimulasi perkembangan pada anak […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: