Posted by: Indonesian Children | April 24, 2010

Faktor resiko gangguan perkembangan bicara dan bahasa pada anak

Faktor Resiko Gangguan Perkembangan Bicara dan Bahasa Pada Anak

Penyebab gangguan perkembangan bahasa sangat banyak dan luas, semua gangguan mulai dari proses pendengaran, penerusan impuls ke otak, otak, otot atau organ pembuat suara. Adapun beberapa penyebab gangguan atau keterlambatan bicara adalah gangguan pendengaran, kelainan organ bicara, retardasi mental, kelainan genetik atau kromosom, autis, mutism selektif, keterlambatan fungsional, afasia reseptif dan deprivasi lingkungan. Deprivasi lingkungan terdiri dari lingkungan sepi, status ekonomi sosial, tehnik pengajaran salah, sikap orangtua. Gangguan bicara pada anak dapat disebabkan karena kelainan organik yang mengganggu beberapa sistem tubuh seperti otak, pendengaran dan fungsi motorik lainnya.

Beberapa penelitian menunjukkan penyebab ganguan bicara adalah adanya gangguan hemisfer dominan. Penyimpangan ini biasanya merujuk ke otak kiri. Beberapa anak juga ditemukan penyimpangan belahan otak kanan, korpus kalosum dan lintasan pendengaran yang saling berhubungan. Hal lain  dapat juga di sebabkan karena diluar organ tubuh seperti lingkungan yang kurang mendapatkan stimulasi yang cukup atau pemakaian dua bahasa. Bila penyebabnya karena lingkungan biasanya keterlambatan yang terjadi tidak terlalu berat.

Terdapat tiga penyebab keterlambatan bicara terbanyak diantaranya adalah retardasi mental, gangguan pendengaran dan keterlambatan maturasi. Keterlambatan maturasi ini sering juga disebut keterlambatan bicara fungsional.

Keterlambatan bicara fungsional merupakan penyebab yang cukup sering  dialami oleh sebagian anak. Keterlambatan bicara fungsional sering juga diistilahkan keterlambatan maturasi atau keterlambatan perkembangan bahasa. Keterlambatan bicara golongan ini disebabkan karena keterlambatan maturitas (kematangan) dari proses saraf pusat yang dibutuhkan untuk memproduksi kemampuan bicara pada anak. Gangguan seperti ini sering dialami oleh laki-laki dan sering terdapat riwayat keterlambatan bicara pada keluarga. Biasanya hal ini merupakan keterlambatan bicara yang ringan dan prognosisnya baik. Pada umumnya kemampuan bicara akan tampak membaik setelah memasuki usia 2 tahun. Terdapat penelitian yang melaporkan penderita dengan keterlambatan ini, kemampuan bicara saat masuk usia sekolah akan normal seperti anak lainnya.

Dalam keadaan ini biasanya fungsi reseptif sangat baik dan kemampuan pemecahan masalah visuo-motor anak dalam keadaan normal. Anak hanya mengalami gangguan perkembangan ringan dalam fungsi ekspresif. Ciri khas lain adalah anak tidak menunjukkan kelainan neurologis, gangguan pendengaran, gangguan kecerdasan dan gangguan psikologis lainnya.

Faktor Internal

Berbagai faktor internal atau faktor biologis tubuh seperti faktor persepsi, kognisi dan prematuritas dianggap sebagai faktor penyebab keterlambatan bicara pada anak.

Persepsi

Kemampuan membedakan informasi yang masuk  disebut persepsi. Persepsi berkembang dalam 4 aspek : pertumbuhan, termasuk perkembangan sel saraf dan keseluruhan sistem; stimulasi, berupa masukan dari lingkungan  meliputi seluruh aspek sensori, kebiasaan, yang merupakan hasil dari skema yang sering terbentuk. Kebiasaan, habituasi, menjadikan bayi mendapat stimulasi baru yang kemudian akan tersimpan dan selanjutnya dikeluarkan dalam  proses belajar bahasa anak. Secara bertahap anak akan mempelajari stimulasi-stimulasi baru mulai dari raba, rasa, penciuman kemudian penglihatan dan pendengaran.

Pada usia balita, kemampuan persepsi auditori mulai terbentuk pada usia 6 atau 12 bulan, dapat memprediksi ukuran kosa kata dan kerumitan pembentukan pada usia 23 bulan.   Telinga sebagai organ sensori auditori berperan penting dalam perkembangan bahasa. Beberapa studi menemukan gangguan pendengaran karena otitis media pada anak akan mengganggu perkembangan bahasa.37     

Sel saraf bayi baru lahir relatif belum terorganisir dan belum spesifik. Dalam perkembangannya, anak mulai membangun peta auditori dari fonem, pemetaan terbentuk saat fonem terdengar. Pengaruh bahasa ucapan berhubungan langsung terhadap jumlah kata-kata yang didengar anak selama masa awal perkembangan sampai akhir umur pra sekolah.

Kognisi

Anak pada usia ini sangat aktif mengatur pengalamannya ke dalam kelompok umum maupun konsep yang lebih besar. Anak belajar mewakilkan, melambangkan ide dan konsep. Kemampuan ini merupakan kemampuan kognisi dasar untuk pemberolehan bahasa anak.

Beberapa teori  yang menjelaskan hubungan antara kognisi dan bahasa :

  1. Bahasa berdasarkan dan ditentukan oleh pikiran (cognitive determinism)
  2. 2.      Kualitas pikiran ditentukan oleh bahasa (linguistic determinism)
  3. Pada awalnya pikiran memproses bahasa tapi selanjutnya pikiran dipengaruhi oleh bahasa.
  4. Bahasa dan pikiran adalah faktor bebas tapi kemampuan yang berkaitan.

Sesuai dengan teori-teori tersebut maka kognisi bertanggung jawab pada pemerolehan bahasa dan pengetahuan kognisi merupakan dasar pemahaman kata.

Prematuritas

Weindrich menemukan adanya faktor-faktor yang berhubungan dengan prematuritas yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak, seperti berat badan lahir, Apgar score, lama perawatan di rumah sakit, bayi yang iritatif, dan kondisi saat keluar rumah sakit.

Beitchman, Hood, & Inglis, 1990; Spitz et al., 1997; Tallal, Ross, & Curtiss, 1989; Tomblin, Smith, & Zhang, 1997, melaporkan bahwa gangguan bahasa sekitar 40% dan 70% merupakan kecendrungan dalam suatu keluarga. Separuh keluarga yang memiliki anak dengan gangguan bahasa, minimal satu dari anggota keluarganya memiliki problem bahasa. Orang tua yang berpengaruh pada keturunan ini mungkin bertanggung jawab terhadap faktor-faktor genetik. Mungkin sulit mengetahui berapa banyak transmisi intergenerasi gangguan-gangguan bahasa tersebut, disebabkan oleh kurangnya dukungan lingkungan terhadap bahasa.

Faktor Eksternal (Faktor Lingkungan)

Riwayat keluarga

Demikian pula dengan anak dalam keluarga yang mempunyai riwayat keterlambatan atau gangguan bahasa beresiko mengalami keterlambatan bahasa pula.  Riwayat keluarga yang dimaksud antara lain anggota keluarga yang mengalami keterlambatan berbicara, memiliki gangguan bahasa, gangguan bicara atau masalah belajar.

 

Pola asuh

Law dkk juga menemukan bahwa anak yang menerima contoh berbahasa yang tidak adekuat dari keluarga, yang tidak memiliki pasangan komunikasi yang cukup dan juga yang kurang memiliki kesempatan untuk berinteraksi akan memiliki kemampuan bahasa yang rendah.

 

Lingkungan verbal

Lingkungan verbal mempengaruhi proses belajar bahasa anak. Anak di lingkungan keluarga profesional akan belajar kata-kata tiga kali lebih banyak dalam seminggu dibandingkan anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan kemampuan verbal lebih rendah.

Pendidikan

Studi lain melaporkan juga ibu dengan tingkat pendidikan rendah merupakan faktor resiko keterlambatan bahasa pada anaknya.

Jumlah anak

Chouhury dan beberapa peneliti lainnya mengungkapkan bahwa jumlah anak dalam keluarga mempengaruhi perkembangan bahasa seorang anak, berhubugan dengan intensitas komunikasi antara orang tua dan anak.38,39

Kemiskinan menempatkan anak pada resiko meningkatnya problem-problem rumah tangga (Halpern, 2000). Kemiskinan secara signifikan mempertinggi resiko terpaparnya masalah kesehatan seperti asma, malnutrisi (Klerman, 1991); gangguan kesehatan mental (Gore & Eckenrode, 1996; McLoyd, 1990; McLoyd & Wilson, 1991); kurang perhatian dan ketidak-teraturan perawatan dari orang tua (Halpern, 1993); dan defisit dalam perkembangan kognisi dan pencapaian keberhasilan (Duncan, Klebanov, & Brooks-Gunn, 1994; Levin, 1991). Beberapa penelitian menjelaskan bahwa keluarga yang bermasalah, terpapar lebih besar faktor-faktor resiko daripada keluarga yang  tidak berada dibawah level kemiskinan, dan konsekuensi dari faktor-faktor resiko ini dapat lebih berat pada anak-anak dalam keluarga ini (Attar, Guerra, & Tolan, 1994; Brooks-Gunn, Kleba-nov, & Liaw, 1995; Liaw & Brooks-Gunn, 1994; McLoyd, 1990).

Anak-anak yang terpapar berbagai faktor resiko, maka resiko untuk berkembang menjadi disabilitas akan meningkat. Salah satu yang termasuk disabilitas adalah specific language impairment (SLI), yang secara umum dijelaskan sebagai pencapaian yang buruk dalam berbahasa meskipun memiliki pendengaran dan intelegensi nonverbal normal (Spitz, Tallal, Flax, & Benasich, 1997). Lebih khusus hal ini dapat diartikan suatu kondisi yang menyebabkan seorang anak memiliki penilaian spesifik dibawah rata-rata standar tes bahasa, tetapi berada pada level rata-rata untuk tes intelegensi nonverbal (Fazio, Naremore, & Connell, 1996). Dengan demikian, pencegahan SLI dapat dengan mengidentifikasi faktor resiko anak sebelum diagnosis formal dibuat.

 Beberapa penelitian meneliti faktor-faktor resiko biologi untuk SLI dan penempatan-penempatan faktor lain dengan melihat “outcome” anak-anak sekolah yang ditempatkan di neonatal intensive care units (NICUs) setelah lahir dengan segera. Anak-anak dari populasi ini diketahui memiliki resiko untuk keterlambatan kognisi dan kesulitan akademik karena mereka biasanya lahir prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2500 g) atau respiratori distres. Sebagian besar literatur menyatakan bahwa meskipun anak-anak dari NICU lebih beresiko mengalami kesulitan kognisi (seperti retardasi mental dan gangguan belajar), mereka tidak memiliki resiko yang meningkat untuk masalah spesifik bahasa, khususnya saat angka penilaian disesuaikan karena prematuritasnya (Resnick et al., 1998; Rice, Spitz, & O’Brien, 1999; Siegel et al., 1982; Tomblin, Smith, & Zhang, 1997).

Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa gangguan bahasa umumnya terdapat kecenderungan dalam suatu keluarga berkisar antara 40% dan 70% (Beitchman, Hood, & Inglis, 1990; Spitz et al., 1997; Tallal, Ross, & Curtiss, 1989; Tomblin, Smith, & Zhang, 1997). Hampir separuh dari keluarga yang anak-anaknya mengalami gangguan bahasa, minimal satu dari anggota keluarganya memiliki problem bahasa. Dengan demikian orang tua yang berpengaruh pada keturunan ini mungkin bertanggung jawab terhadap faktor-faktor genetik. Mungkin tidak diketahui berapa banyak transmisi intergenerasi gangguan-gangguan bahasa tersebut disebabkan oleh kurangnya dukungan lingkungan terhadap bahasa.

Kondisi lingkungan merupakan hal yang penting menyangkut hasil perkembangan seorang anak. Beberapa anak yang datang dari keluarga yang tidak stabil dan kurangnya perhatian, perawatan, dan kurang memadainya kebutuhan nutrisi dan perawatan kesehatan, dapat membentuk level stress lingkungan yang merugikan bagi perkembangan anak termasuk bahasa (Wells, 1980). Untuk alasan ini, resiko dari problem-problem bahasa dikaitkan dengan faktor sosioekonomi dan kelemahan ekonomi. Peneliti-peneliti lain mendiskusikan beberapa variabel-variabel lingkungan yang tampak lebih dapat diprediksi:

  1. higher birth order (Hoff-Ginsberg, 1998; Neils & Aram, 1986; Pine, 1995; Tallal et al., 1989; Tomblin, 1989, 1990; Tomblin, Hardy, & Hein, 1991);
  2. Pendidikan ibu yang rendah (Paul, 1991; Rice et al., 1999; Tomblin, Records, et al., 1997; Tomblin, Smith, & Zhang, 1997); and
  3. Orang tua tunggal (Andrews, Goldberg, Wellen, Pittman, & Struening, 1995; Goldberg, McLaughlin, Grossi, Tytun, & Blum, 1992; Miller & Moore, 1990).

Tersusunnya model resiko perkembangan dapat digunakan untuk memprediksi dengan lebih akurat, dengan mengkombinasi satu atau lebih faktor-faktor resiko tersebut (Sameroff, Seifer, Baldwin, & Baldwin, 1993; Sameroff, Seifer, Barocas, Zax, & Greenspan, 1987). Pernyataan-pernyataan yang diambil ini adalah efek komulatif dari resiko yang multipel,

Dalam suatu model penelitian dari Sameroff (1993) menunjukkan beberapa faktor resiko sosial dan keluarga diantaranya adalah : masalah-masalah kesehatan mental ibu, kecemasan ibu, maternal authoritarian childrearing attitudes, hubungan ibu-anak yang buruk, pendidikan ibu yang kurang dari menengah atas, orang tua yang kurang atau tidak memiliki ketrampilan dalam pekerjaan head of the household has a semiskilled or an unskilled occupation, status etnik minoritas, tidak ada bapak, beberapa tekanan kehidupan tahun terdahulu, dan ukuran keluarga yang besar.

Sebuah studi oleh Hooper, Burchinal, Roberts, Zeisel, and Neebe (1998) juga menyajikan fakta-fakta yang menggunakan model resiko komulatif untuk memprediksi kemampuan kognitif dan bahasa pada bayi yang lebih dipengaruhi oleh status sosioekonomi yang rendah pada populasi Afrika Amerika. Hooper  mengidentifikasi satu perangkat dari 10 faktor-faktor resiko sosial dan keluarga berdasarkan pada model resiko dari Sameroff berupa status kemiskinan, pendidikan ibu kurang dari sekolah menengah atas, ukuran keluarga yang besar, ibu yang tidak menikah, hidup yang penuh tekanan, dampak dari ibu yang depresi, interaksi ibu-anak yang buruk, IQ ibu, kualitas lingkungan rumah, dan kualitas perawatan sehari-hari.

Seluruh faktor resiko sosial dan keluarga dimasukkan ke dalam studi, saat bayi berusia 6 sampai 12 bulan. Peneliti-peneliti menemukan bahwa 9 dari 10 faktor-faktor resiko (tekanan hidup merupakan pengecualian) terkait dengan keberhasilan kognisi dan bahasa dari infan-infan. Komulatif indeks resiko dihubungkan dengan pengukuran bahasa (sekitar 12% sampai 17% dari varian) tetapi bukan pengukuran kognisi

Evans dan English (2002) menyajikan fakta-fakta bahwa anak-anak dengan orang tua berpenghasilan rendah terpapar faktor-faktor resiko lingkungan dalam jumlah yang lebih besar daripada yang berpenghasilan menengah. Mereka memperkenalkan tiga penyebab stress psikososial  (kekerasan, pertengkaran keluarga, perpisahan anak dengan keluarga) dan tiga penyebab stress fisik  (kekacauan, kegaduhan, kualitas rumah yang rendah) merupakan faktor resiko yang memberikan pengaruh negatif. Dalam penelitiannya tentang lingkungan yang miskin, mereka menemukan hanya 20% anak-anak yang hidup dalam keluarga dengan penghasilan yang rendah tidak terpapar satupun faktor resiko. Sebaliknya, 61% keluarga dengan penghasilan menengah tidak terpapar faktor resiko. Temuan ini menyatakan bahwa mayoritas anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah terpapar lebih banyak masalah kemelaratan daripada kelompok berpenghasilan menengah dan disfungsi kognitif, prilaku, atau sosial akan meningkat.

Sampai saat ini penelitian-penelitian terus mempelajari tentang perbedaan perkembangan bahasa anak yang diambil dari kultur dan latar-belakang sosioekonomi yang berbeda dan pengaruh dari perbedaan-perbedaan ini terhadap pencapaian akademik selajutnya. Robertson (1998) membandingkan kemampuan fonologi anak TK dari keluarga dengan SES tinggi dan rendah dan menemukan bahwa anak-anak dari SES rendah secara signifikan lebih buruk pada rangkaian pengukuran kognisi, linguistik, pra-baca. Dua tahun pemantauan terlihat bahwa anak-anak ini tidak mengejar anak-anak dari keluarga high-SES. Burt, Holm, and Dodd (1999) juga menemukan hubungan antara prestasi yang buruk dengan SES yang rendah dengan menilai prestasi anak-anak pada beberapa tugas-tugas fonologi. Suatu usaha untuk menjelaskan keterkaitan antara  kelemahan dan kegagalan sekolah, In an attempt to explain the link between disadvantage and school failure, maka Hart and Risley (1995) mempelajari perbedaan antara kualitas bahasa ditujukan pada anak-anak dengan latar belakang SES yang berbeda pada 21/2 tahun pertama kehidupan mereka. Mereka melaporkan bahwa anak-anak dari latar belakang SES yang rendah berada dalamkelemahan karena orang tua mereka atau pengasuh sangat jarang mengajak berbicara; akibatnya mereka miskin perbendaharaan kata dan kemampuan komunikasi dibanding kelompok SES yang lebih tinggi. 

Genetik

Laporan-laporan kasus sering memperlihatkan riwayat keluarga positif pada gangguan komunikasi. Antara 28% and 60% dari anak-anak dengan gangguan bicara dan bahasa mempunyai saudara kandung dan/atau orang tua yang juga mengalami kesulitan bicara dan bahasa. (e.g. Bishop and Edmundson 1986, Tallal et al. 1989, Whitehurst et al. 1991, Lewis 1992). Anggota keluarga laki-laki lebih berpengaruh dari pada wanita (Tallal et al. 1989, Lewis and Freebairn 1997). Bagaimanapun, data terbanyak memperlihatkan anak-anak dengan hanya gangguan bahasa saja dan tidak pada anak dengan gangguan bicara terpisah (isolated speech disorders). Lewis and Freebairn (1997) berhipotesa bahwa anak-anak dengan riwayat keluarga positif terhadap gangguan bicara akan membentuk grup spesifik ke dalam populasi gangguan bicara. Penemuan mereka tidak mendukung hipotesa karena tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan pada pengukuran artikulasi, fonologi, bahasa, kemampuan-kemampuan oral-motor atau kemampuan membaca dan menulis diantara anak-anak yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan bicara dibanding yang bukan. Akan tetapi disimpulkan bahwa riwayat keluarga yang positif masih bisa “dipertimbangkan sebagai faktor resiko yang bisa digunakan untuk identifikasi awal sehingga memungkinkan dilakukan intervensi dini bagi anak-anak yang keluarganya memperlihatkan gangguan ini (Lewis and Freebairn 1997: 398).

Otitis media

Sekitar 80% dari seluruh anak prasekolah mengalami satu atau lebih episode otitis media Akut (OMA) atau otitis media effusion (OME) (Grievink et al. 1993). Selama episode ini, anak-anak mengalami fluktuasi kehilangan pendengaran, biasanya antara 20 dB dan 50 dB (Gravel and Nozza 1997 for a review), mempengaruhi jumlah dan kualitas bicara dan bahasa yang didengar. Banyak studi yang melaporkan kemungkinan ada hubungan antara otitis media dengan atau tanpa efusi dan keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa. Lima artikel membahas khusus tentang hal ini (Roberts et al. 1991, 1997, Pagel Paden 1994, Roberts and Clarke-Klein 1994, Schwartz et al. 1997). Artikel-artikel ini menyimpulkan bahwa banyak, tetapi tidak semua anak yang mengalami episode infeksi telinga tengah mempunyai gangguan bicara dan bahasa, dan tidak semua anak yang mempunyai gangguan bicara dan bahasa mengalami infeksi telinga tengah.

Pre dan perinatal

Penyebab spesifik berhubungan antara kesulitan pre dan perinatal dengan gangguan bicara dan bahasa juga telah dibuktikan. Infeksi selama kehamilan, imaturitas dan berat badan lahir rendah dilaporkan mempunyai efek negatif pada perkembangan bicara dan bahasa (Byers-Brown and Edwards 1989, Tomblin et al. 1991, 1997, Peters et al. 1997, Gerber 1998). Bagaimanapun, Bax and Stevenson (1982) and Menyuk et al. (1986) menemukan perbedaan yang tidak signifikan sejumlah kejadian antara imaturitas dan berat badan lahir rendah anak dan kontrolnya.  Saat paling banyak studi-studi terfokus pada anak-anak dengan gangguan bahasa, Byers-Brown et al. (1986) melaporkan secara signifikan keterlambatan proses pengeluaran suara dalam bicara pada anak imatur. Lebih jauh diperlukan penelitian yang mengkhususkan pada anak-anak dengan gangguan bicara terpisah.

Sucking habits

Gangguan bicara mungkin dihubungkan dengan kebiasaan-kebiasan mengisap pada anak. Dianggap bahwa mengisap yang berlebihan dengan menggunakan jempol dan botol berperan sebagai pengaman (pacifier) pada gangguan myofunction, menurunnya oral awareness, menurunnya kemampuan motorik oral (Garliner 1971, Hahn 1988, Hensel and Splieth 1998). Gangguan fungsi otot sering dihubungkan dengan kesulitan-kesulitan bicara. Terpisah dari ditegakkannya hubungan antara /s/ distorsi dan gangguan fungsi otot (e.g. Hahn 1988, Hensel and Splieth 1998) ada fakta-fakta yang tidak memperlihatkan adanya hubungan antara kebiasaan mengisap, kemampuan motorik oral dan gangguan bicara.

Ringkasnya, hubungan antara faktor-faktor resiko dengan perkembangan bicara dan bahasa masih belum jelas. Terbanyak studi-studi focus pada anak-anak dengan kombinasi bicara dan bahasa atau hanya gangguan bahasa terpisah yang mungkin tidak menggambarkan anak-anak dengan gangguan bicara terpisah.

Daftar Pustaka

  1. Delgado, Christine E. F.Vagi, Sara J.Scott, Keith G.Early Risk Factors for Speech and Language Impairments. Exceptionality, v13 n3 p173-191 2005
  2. Margaret Snowling a1c1, D. V. M. Bishop a2 and Susan E. Stothard a3Is Preschool Language Impairment a Risk Factor for Dyslexia in Adolescence? Journal of Child Psychology and Psychiatry (2000), 41:5:587-600
  3. Fox A. V.1; Dodd B.1; Howard D.1Risk factors for speech disorders in children. International Journal of Language & Communication Disorders, Volume 37, Number 2, 1 April 2002 , pp. 117-131(15)
  4. J. G. Barry*,†, I. Yasin D. V. M. Bishop Heritable risk factors associated with language impairments
  5. Brant LJ, Gordon-Salant S, Pearson JD, Klein LL, Morrell CH, Metter EJ, Fozard JL. Risk factors related to age-associated hearing loss in the speech frequencies. J Am Acad Audiol. 1996 Jun;7(3):152-60
  6. Fox A V; Dodd Barbara; Howard David. Risk factors for speech disorders in children. International journal of language & communication disorders / Royal College of Speech & Language Therapists 2002;37(2):117-31.
  7. McGrath Lauren M; Hutaff-Lee Christa; Scott Ashley; Boada Richard; Shriberg Lawrence D; Pennington Bruce F. Children with comorbid speech sound disorder and specific language impairment are at increased risk for attention-deficit/hyperactivity disorder.Journal of abnormal child psychology 2008;36(2):151-63.
  8. Salameh E.1; Nettelbladt U.1; Gullberg B.1Risk factors for language impairment in Swedish bilingual and monolingual children relative to severity. Acta Paediatrica, Volume 91, Number 12, 2002 , pp. 1379-1384(6)
  9. Kisilevsky BS, Hains SM, Brown CA, Lee CT, Cowperthwaite B, Stutzman SS, Swansburg ML, Lee K, Xie X, Huang H, Ye HH, Zhang K, Wang Z. Fetal sensitivity to properties of maternal speech and language. Infant Behav Dev. 2009 Jan;32(1):59-71. Epub 2008 Dec 5.
  10. von Kries R, von Suchodoletz W, Stränger J, Toschke AM. Television in a child’s bedroom–a possible risk factor for expressive language impairment in 5- and 6-year-old children. Gesundheitswesen. 2006 Oct;68(10):613-7
  11. O’Callaghan, Michael, Williams, Gail M.Andersen, Margaret J.
    Bor, William Najman, Jake M. Social and Biological Risk Factors for Mild and Borderline Impairment of Language Comprehension in a Cohort of Five-Year-Old Children. Developmental Medicine and Child Neurology. 1995-01-01;37,12,1051-1061
  12. Tina L. Stanton-Chapman, Derek A. Chapman, Ann P. Kaiser, Terry B. Hancock .Cumulative Risk and Low-Income Children’s Language Development. Topics in Early Childhood Special Education, Vol. 24, No. 4, 227-237 (2004)

 

Supported By

CHILDREN SPEECH CLINIC Yudhasmara Foundation

Office ; JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 10210  phone : 62(021) 70081995 – 5703646 email : judarwanto@gmail.com, http://clinicalpediatric.wordpress.com/ 

Clinic and Editor in Chief :

Dr WIDODO JUDARWANTO

phone : 62(021) 70081995 – 62(021) 5703646, mobile : 0817171764

email : judarwanto@gmail.com 

curriculum vitae

 

 

Copyright © 2010, Children Speech Clinic  Information Education Network. All rights reserved


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: