Posted by: Indonesian Children | April 25, 2009

TANDA DAN GEJALA GANGGUAN PERKEMBANGAN FUNGSI MOTORIK, MOTORIK ORAL DAN GANGGUAN PERILAKU YANG SERING DIKAITKAN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN BICARA DAN BAHASA

 

TANDA DAN GEJALA GANGGUAN PERKEMBANGAN FUNGSI MOTORIK, MOTORIK ORAL DAN GANGGUAN PERILAKU
YANG SERING DIKAITKAN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN BICARA DAN BAHASA
 
dr Widodo Judarwanto SpA
CHILDREN ALLERGY CLINIC
PICKY EATERS CLINIC JAKARTA INDONESIA
Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia
PENDAHULUAN
Manusia berinteraksi satu dengan yang lain melalui komunikasi dalam bentuk bahasa. Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan tulisan, bacaan dan tanda atau simbol5. Berbahasa itu sendiri merupakan proses kompleks yang tidak terjadi begitu saja. Manusia berkomunikasi lewat bahasa memerlukan proses yang berkembang dalam tahap-tahap usianya. Bagaimana manusia bisa menggunakan bahasa sebagai cara berkomunikasi selalu menjadi pertanyaan yang menarik untuk dibahas sehingga memunculkan banyak teori tentang pemerolehan bahasa.

Gangguan bicara dan bahasa dialami oleh 8% anak usia pra sekolah. Hampirsebanyak 20% dari anak berumur 2 tahun mempunyai gangguan keterlambatan bicara dan gangguan berbahasa. Keterlambatan bicara paling sering terjadi pada usia 3-16 tahun.
Pada umur 5 tahun, 19% dari anak-anak diidentifikasi memiliki gangguan bicara dan bahasa (6,4% kelemahan berbicara, 4,6% kelemahan bicara danbahasa, dan 6% kelemahan bahasa).

Gagap terjadi pada 4­-5% pada usia 3 – ­5 tahun dan 1% pada usia remaja. Laki-laki diidentifikasi memiliki gangguan bicara dan bahasa hampir dua kali lebih banyak daripada wanita. Sekitar 3 ­- 6% anak usia sekolah memiliki gangguan bicara dan bahasa tanpa gejala neurologi, sedangkan pada usia pra sekolah prevalensinya lebih tinggi yaitu sekitar 15%. Menurut penelitian anak dengan riwayat sosial ekonomi yang lemah memiliki insiden gangguan bicara dan bahasa yang lebih tinggi dari pada anak dengan riwayatsosial ekonomi menengah keatas.

Beberapa peneliti mengungkapkan bahwa keterlambatan bicara sering dikaitkan dengan gangguan perkembangan, gangguan perilaku, gangguan motorik oral dan gangguan fungsi motorik lainnya. Bila berbagai gangguan yang tyerjadi hampir bersamaan tersebut tidak disikapi dengan baik,maka akan mengganggu tumbuh dan berkembangnya anak di masa depan.

HUBUNGAN ANTARA KETERLAMBATAN BICARA, FUNGSI MOTOR DAN GANGGUAN ORAL MOTOR
Terdapat beberapa penelitian mengkaitkan antara masalah motorik anak dengan DSLDs (Developmental speech and language disorders) terutama pada fungsi motorik halus. Penelitian tersebut memperlihatkan secara signifikan anak-anak dengan DSLDs memiliki ketrampilan motorik lebih lambat dibanding anak-anak umumnya terutama koordinasi mata-tangan(antara lain pegboard, threading beads, fastening buttons, and tapping). Sebagai catatan problem-problem motorik ini tidak dibatasi pada fungsi-fungsi motorik yang dipaksakan. Untuk ketrampilan motorik kasar dapat diamati ketrampilan melangkah, berlari, menaiki tangga, berdiri dengan 1 kaki, melompat dengan 1 kaki, berjalan jinjit, berjalan dengan tumit, dan ketrampilan-ketrampilan yang meliputi pengontrolan obyek atau aktivitas lokomotor pada anak dengan masalah bahasa yang relative buruk dibandingkan anak lain pada umumnya. Disamping itu, keseimbangan pada 1 kaki ternyata menjadi 1 ukuran yang paling membedakan antara anak-anak dengan kelemahan spesifik bahasa dibanding anak-anak umumnya. Sebaliknya, hasil dari penelitian sebelumnya menemukan tidak ada perbedaan antara anak-anak dengan kelemahan spesifik bahasa dengan anak-anak umumnya dalam mempertahankan lamanya keseimbangan.
Penelitian sebelumnya menghubungkan antara kemampuan oral motor dan bicara, terlihat gerakan sederhana yang menyerupai gerakan makan(Moore & Ruark, 1996), atau gerakan oral cepat dan berulang(Dworkin & Culatta, 1985), Kedua penelitian ini tidak memperlihatkan hubungan gangguan dan perkembangan bahasa. Peneliti lain menyatakan bahwa makin sulit gerakan oral, makin berhubungan dengan kemampuan bicara, mungkin karena hal tersebut menyerupai suatu percakapan. Dari hasil ini, terlihat bahwa anak-anak yang gerakan oral motornya buruk sebelum usia dua tahun, juga memiliki kemampuan bahasa yang buruk. Anak-anak yang kemampuan oral motornya baik bagaimanapun akan mampu menggunakan bahasa pada spektrumnya. Hal ini menyiratkan bahwa kemampuan oral motor diperlukan dan prasyarat untuk kemampuan berbicara yang baik.

 

Pengalaman klinis yang menghubungkan antara kontrol motorik dan bahasa
Pada pemeriksaan hubungan antara perkembangan kontrol motorik dan bahasa dan gangguannya, terdapat perbedaan antara besarnya jumlah yang diketahui tentang motor kontrol anggota tubuh dan sedikit yang diketahui tentang motor kontrol oral. Sebagai contoh, telah lama diketahui bahwa fase pertama dari perkembangan bahasa terjadi sejajar dengan fase pertam perkembangan gestural, dan anak-anak yang fase gesturalnya lebih awal dari rata-rata biasanya juga mengucapkan kata-kata pertamanya lebih awal dari rata-rata(Bates et al., 1979). Data terakhir memperlihatkan bahwa anak-anak yang terlambat memulai baik komunikasi gestural dan percakapan bahasa secara spontan, lebih mungkin untuk mengalami keterlambatan daripada anak-anak yang memulai komunikasi gestural pada umur yang sesuai tetapi juga mengalami keterlambatan bicara (Thal et al., 1997).
Ada juga suatu hubungan yang kuat antara kesulitan kontrol motorik anggota tubuh dan kelemahan bahasa(Hill, 2001), yang mana terlihat genetik ikut berperan (Bishop, 2002). Ketidakseimbangan dalam penelitian ini masih ada, meskipun kenyataannya mayoritas pengguna bahasa yang bicara. Sekarang terjadi perubahan dalam perkembangan ketrampilan motorik oral.

Sebagian besar penelitian focus pada masalah motorik anak dengan DSLDs terutama pada fungsi motorik halus. Penelitian ini memperlihatkan secara signifikan anak-anak dengan DSLDs memiliki motorik lebih lambat disbanding anak-anak umumnya terutama koordinasi mata-tangan(antara lain pegboard, threading beads, fastening buttons, and tapping). Sebagai catatan problem-problem motorik ini tidak dibatasi pada fungsi-fungsi motorik yang dipaksakan. Untuk kemampuan motorik kasar dapat diamati kemampuan melangkah, berlari, menaiki tangga, berdiri dengan 1 kaki, melompat dengan 1 kaki, berjalan jinjit, berjalan dengan tumit, dan kemampuan-kemampuan yang meliputi pengontrolan obyek atau aktivitas lokomotor pada anak dengan masalah bahasa yang relatif buruk dibanding anak lain pada umumnya. Disamping itu, keseimbangan pada 1 kaki ternyata menjadi 1 ukuran yang paling membedakan antara anak-anak dengan kelemahan spesifik bahasa dibanding anak-anak umumnya. Sebaliknya, hasil dari penelitian sebelumnya menemukan tidak ada perbedaan antara anak-anak dengan kelemahan spesifik bahasa dengan anak-anak umumnya dalam mempertahankan lamanya keseimbangan.

Sangat jelas fakta-fakta, secara klinis bermakna antara DSLDs dan masalah-masalah motorik; bagaimanapun kedua hal itu merupakan suatu catatan. Pertama, hampir tidak ada perhatian untuk mengembalikan ketrampilan bola pada anak-anak dengan DSLDs, meskipun dalam melakukan ketrampilan ini secara jelas terdapat koordinasi mata-tangan, tergantung pada control keseimbangan, dan pentingnya kontribusi untuk interaksi sosial anak-anak tersebut dengan grup bermainnya. Anak-anak dengan DSLDs mempunyai masalah-masalah sosial, karena mereka kesulitan komunikasi, ketrampilan bola yang tidak cukup, lebih jauh keterbatasan kemampuan anak-anak untuk berinteraksi sosial dan fisik dengan kelompok bermainnya. Dalam lingkup ini, hal tersebut sangat penting bagi studi epidemiologi menekankan nilai sosial dan gaya hidup aktif fisik, terutama saat memulai awal kehidupan. Satu dampak besar seperti gaya hidup yang menurun berdampak pada kelemahan kognitif nantinya. Kedua penelitian pemeriksaan motorik pada subgroup anak-anak dengan DSLDs terbatas.
Hill menyatakan bahwa subgroup anak-anak dengan DSLDs memiliki kemampuan berbeda dalam fungsi motorik halus. Bishop tertuju pada spesifik-subtipe perbedaan hubungan motorik dan menemukan hasil yang menarik. Penelitian pada anak kembar dimana 1 atau kedua kembar mempunyai kelemahan bicara/bahasa dibandingkan kelompok kontrol anak normal, dia menemukan bahwa anak-anak dengan kombinasi kelemahan bicara dan bahasa memperoleh total nilai yang lebih buruk pada pegboard dan tapping daripada kelompok kontrol. Lebih jauh dia menyimpulkan bahwa hubungan antara kelemahan bicara/bahasa dan masalah motorik adalah lebih kuat untuk kelemahan bicara daripada kelemahan bahasa. Hal ini penting untuk menambah pemahaman profil kemampuan subgroup anak dengan DSLDs, karena informasi ini bisa digunakan untuk memberikan cara-cara yang efektif untuk intervensi.
 
BERBAGAI GANGGUAN MOTORIK. VESTIBULARIS  DAN SENSORIS YANG SERING MENYERTAI ANAK DENGAN KETERLAMBATAN BICARA
  1. GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”. Terlambat melompat dan terlambat mengayuh sepeda.
  2. GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (silau), raba (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik)
  3. GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
  4. GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
    Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. MUDAH JATUH DARI TEMPAT TIDUR. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.

     


Gangguan Yang Sangat Mungkin sering Menyertai Gangguan Bicara

  1. GANGGUAN TIDUR MALAM : sulit tidur bolak-balik ujung ke ujung, tidur posisi “nungging”, berbicara,tertawa,berteriak, sering terbangun duduk saat tidur,mimpi buruk, “beradu gigi” atau bruxism
  2. AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
  3. GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
  4. EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme

 

Gangguan Perkembangan dan Perilaku Yang sering menyertai Gangguan Bicara

  • SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
  • HAMPIR SEBAGIAN BESAR PENDERITA AUTISM PASTI AKAN MENGALAMI GANGGUAN KOMUNIKASI, GANGGUAN BICARA DAN BERBAHASA. TETAPI PENDERITA GANGGUAN BICARA BELUM TENTU MENGALAMI GANGGUAN AUTISM.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. D’odorico L, Assanelli A. A follow up study on Italian late talkers: Development of language, short –term memory, phonological awareness, impulsiveness, and attention. Applied Psycholingistics 28(2007),157-169.
  2. Bates E, Dale PS, Thal D. Individual differences and their implications for theories of language development. In P. Fletcher & B. MacWhinney (Eds.), The Handbook of Child Language (pp. 96-151). Oxford, UK: Blackwell.Bates, E. & Goodman, J. C. (1997). On the inseparability of grammar and the lexicon: Evidence from acquisition, aphasia and real-time processing. Language and Cognitive Processes 1995, 12(5-6), 507-584.
  3. Thal DJ, Bates E, Goodman J, Jahn-Samilo J. Continuity of language abilities: An exploratory study of late- and early-talking toddlers. Developmental Neuropsychology
  4. Hill EL. Non-specific nature of specific language impairment: a review of the literature with regard to concomitant motor impairments. International Journal of Language & Communication Disorders 2001, 36(2), 149-171.
  5. Bishop DVM. Motor immaturity and specific speech and language impairment: Evidence for a common genetic basis. American Journal of Medical Genetics 2002, 114(1), 56-63.
  6. Alcock KJ, Passingham RE, Watkins KE, Vargha-Khadem F. Oral Dyspraxia in Inherited Speech and Language Impairment and Acquired Dysphasia. Brain & Language 2000, 75(1), 17-33.
  7. Mateer C, Kimura D. Impairment of non-verbal oral movements in aphasia. Brain and Language 1997, 4, 262-276.
  8. Masdeu JC, O’Hara RJ. Motor aphasia unaccompanied by faciobrachial weakness. Neurology 1983, 33, 519-521.
  9. Karmiloff-Smith A. Development itself is the key to understanding developmental disorders. Trends in Cognitive Sciences 1998, 2(10), 389-398.
  10. Adams L. Oral-motor and motor-speech characteristics of children with autism. Focus on Autism and Other Developmental Disabilities 1998, 13(2), 108-112.
  11. Amato JJ, Slavin D. A preliminary investigation of oromotor function in young verbal and nonverbal children with autism. Infant Toddler Intervention 1998, 8(2), 175-184.
  12. Kumin L, Adams J. Developmental apraxia of speech and intelligibility in children with Down syndrome. Down Syndrome Quarterly 2000, 5(3), 1-7.
  13. Kumin L, Bahr DC. Patterns of feeding, eating and drinking in young children with Down syndrome with oral motor concerns. Down Syndrome Quarterly 1999, 4(2), 1-8.
  14. Spender Q, Dennis J, Stein A, Cave, D. Impaired oral-motor function in children with Down’s syndrome: A study of three twin pairs. European Journal of Disorders of Communication 1995, 30(5), 77-87.
  15. Stackhouse J, Snowling M. Developmental verbal dyspraxia II: A developmental perspective on two case studies. European Journal of Disorders of Communication 1992, 27, 35-54
  16. Fisher S, Vargha-Khadem F, Watkins KE, Monaco AP, Pembry, ME. Localisation of a gene implicated in a severe speech and language disorder. Nature Genetics 1998, 18, 168.
  17. Gopnik, M. & Crago, M. B.. Familial aggregation of a developmental language disorder. Cognition 1991, 39, 1-50.
  18. Pinker, S. (1995). The Language Instinct (1st ed.). New York: HarperPerennial.Qvarnstrom, M. J., Jaroma, S. M. & Laine, M. T. (1994). Changes in the peripheral speech mechanism of children from the age of 7 to 10 years. Folia Phoniatrica et Logopaedica, 46(4), 193-202.
  19. Vargha-Khadem F, Watkins K, Alcock KJ, Fletcher P, Passingham R. Praxic and nonverbal cognitive deficits in a large family with a genetically transmitted speech and language disorder. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 1995, 92(3), 930-933.
  20. Watkins KE, Vargha-Khadem F, Ashburner J, Passingham RE, Connelly A, Friston KJ et al. MRI analysis of an inherited speech and language disorder: structural brain abnormalities. Brain 2001, 125, 465-478.
  21. Bizzozero I, Costato D, Della Sala S, Papagno C, Spinnler H, Venneri A. Upper and lower face apraxia: role of the right hemisphere. Brain 2002, 123, 2213-2230.

 

 

Supported  by
CLINIC FOR CHILDREN

Yudhasmara Foundation

JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010

phone : 62(021) 70081995 – 5703646

http://childrenclinic.wordpress.com/

 

 

 

Clinical and Editor in Chief :

DR WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.


Responses

  1. Dok, saya mempunyai bayi berumur 2 bulan, nah skr bayi saya itu sering betul meliat keatas, saya sering mencoba mengerakan sesuatu diatas matanya kadang ada respon kadang tidak ada, saya minta penjelasannya dok, terima kasih…

  2. […] Gangguan perkembangan motorik, motorik oral, dan gangguan perilaku berkaitan dengan gangguan bicara …  […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: